Jumat, 07 Februari 2025

25-21: Usia Ideal Menikah Menurut BKKBN, Tapi Mengapa Yi-jin dan Hee-do Berpisah?

Oleh: Emelia, Divisi Eksternal Organisasi

25-21: Usia Ideal Menikah Menurut BKKBN, Tapi Mengapa Yi-jin dan Hee-do Berpisah?


"Menikah adalah keputusan besar dalam kehidupan seseorang"

Hai GenRangers! Siapa nih yang suka mengisi waktu luangnya dengan nonton K-Drama? Kalian pernah nonton drama Korea Twenty-Five Twenty-One belum?

Tau gak sih kalian, kalau BKKBN merekomendasikan usia ideal menikah bagi perempuan adalah 21 tahun, sedangkan bagi laki-laki 25 tahun. Rekomendasi ini bukan sekadar angka, tetapi didasarkan pada berbagai pertimbangan seperti kesiapan fisik, mental, ekonomi, dan sosial untuk membangun keluarga yang harmonis.

Jika usia ideal menikah dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menjalani hubungan serius, mengapa Na Hee-do dan Baek Yi-jin dalam drama Korea Twenty-Five Twenty-One tetap berpisah meskipun mereka berada dalam rentang usia ini? Bukankah mereka saling mencintai dan telah melewati berbagai tantangan bersama?

Mari kita bahas lebih dalam bagaimana usia 25 dan 21 dianggap sebagai waktu terbaik untuk menikah, serta mengapa, meskipun sudah berada dalam fase usia ini, hubungan Hee-do dan Yi-jin tidak bisa bertahan.

Mengapa BKKBN Menentukan Usia Ideal Menikah 25-21?

1. Kesiapan Fisik dan Kesehatan Reproduksi

Di usia 21 tahun, organ reproduksi perempuan telah berkembang secara optimal, sehingga kehamilan dan persalinan lebih aman dibandingkan jika terjadi pada usia terlalu muda. Menikah dan hamil di bawah usia 20 tahun dapat meningkatkan risiko kesehatan seperti keguguran, kelahiran prematur, dan bayi lahir dengan berat badan rendah. Selain itu, anak-anak yang lahir dari ibu yang terlalu muda lebih rentan mengalami stunting akibat kurangnya kesiapan gizi dan pengasuhan.

Drama Twenty-Five Twenty-One tidak menyoroti aspek ini secara langsung, tetapi Hee-do yang masih sangat aktif sebagai atlet anggar mungkin akan mengalami dilema besar jika ia harus mengorbankan kariernya demi pernikahan dan keluarga di usia yang terlalu dini. Ia masih memiliki impian besar, yang mungkin belum selaras dengan tuntutan kehidupan rumah tangga.

"Usia 21 dianggap ideal karena perempuan sudah cukup matang secara fisik untuk menjalani kehamilan dengan risiko lebih rendah."

2. Kematangan Emosional dan Mental

Di usia 21 dan 25 tahun, seseorang diharapkan sudah memiliki tingkat kematangan emosional yang lebih baik dibandingkan usia remaja. Mereka lebih mampu mengelola stres, berkomunikasi dengan pasangan, dan menghadapi konflik dengan cara yang dewasa.

Namun, Twenty-Five Twenty-One menunjukkan bahwa kematangan emosional bukan hanya soal usia, tetapi juga pengalaman hidup yang telah dijalani. Yi-jin harus berjuang keras dalam kariernya sebagai jurnalis, menghadapi tekanan pekerjaan yang luar biasa. Sementara itu, Hee-do masih mengejar impian besar dalam dunia olahraga.

Meski mereka telah berusia 25 dan 21 tahun, mereka belum mencapai kestabilan mental untuk menghadapi tantangan hubungan jangka panjang. Keduanya masih memiliki ambisi masing-masing yang membuat hubungan mereka sulit untuk dipertahankan.

"Pernikahan membutuhkan komunikasi dan toleransi yang tinggi. Jika pasangan belum matang secara emosional, konflik kecil dapat berkembang menjadi masalah besar."

3. Kesiapan Ekonomi dan Karier

BKKBN menyarankan agar laki-laki menikah pada usia 25 tahun karena diharapkan sudah memiliki stabilitas ekonomi dan karier yang cukup untuk membangun rumah tangga. Dalam kehidupan nyata, kestabilan finansial sangat penting untuk memastikan kesejahteraan keluarga, menghindari tekanan ekonomi, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Hal ini sangat relevan dengan kondisi Yi-jin dalam Twenty-Five Twenty-One. Sebagai seorang jurnalis muda, ia masih menghadapi berbagai tantangan dalam kariernya, seperti ketidakstabilan pekerjaan dan tekanan dari pekerjaannya yang menuntut waktu dan tenaga besar. Dalam salah satu adegan, kita melihat bagaimana kesibukan dan beban karier membuatnya semakin jauh dari Hee-do, hingga akhirnya mereka memilih berpisah.

Pernikahan membutuhkan lebih dari sekadar cinta—stabilitas ekonomi dan waktu untuk bersama juga sangat penting. Sayangnya, hubungan Yi-jin dan Hee-do tidak bisa bertahan karena mereka belum siap dalam aspek ini.

"Usia 25 tahun untuk laki-laki diharapkan sudah memiliki pekerjaan yang mapan untuk menafkahi keluarga."

Mengapa Yi-jin dan Hee-do Tetap Berpisah?

Meski berada di usia ideal menikah menurut BKKBN, Yi-jin dan Hee-do memilih untuk berpisah. Hal ini mengajarkan kita bahwa usia saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan sebuah hubungan. Ada faktor lain yang lebih kompleks, seperti:

- Impian dan Karier yang Masih Diprioritaskan, Hee-do masih mengejar mimpinya sebagai atlet anggar, dan Yi-jin masih berjuang membangun kariernya sebagai jurnalis.

- Kurangnya Waktu untuk Saling Mendukung, Yi-jin sering sibuk dengan pekerjaannya hingga sulit memberikan perhatian pada hubungan mereka.

- Tantangan Hidup yang Terlalu Besar, Mereka menghadapi tekanan karier dan kehidupan yang akhirnya membuat mereka semakin jauh secara emosional.

Drama ini menggambarkan dengan realistis bahwa meskipun cinta ada, kadang cinta tidak cukup untuk mempertahankan hubungan jika keadaan tidak memungkinkan. Sama seperti dalam kehidupan nyata, banyak pasangan yang memilih untuk berpisah bukan karena mereka tidak saling mencintai, tetapi karena impian dan prioritas mereka masih berbeda.

"Kadang, cinta pertama bukan untuk dimiliki selamanya, tetapi untuk dikenang sebagai bagian dari perjalanan hidup kita." - Twenty-Five Twenty-One

Kesimpulan: Usia Ideal Tidak Menjamin Kebahagiaan dalam Pernikahan

BKKBN memberikan rekomendasi usia menikah berdasarkan kesiapan fisik, mental, dan ekonomi. Namun, drama Twenty-Five Twenty-One mengajarkan bahwa usia bukanlah satu-satunya faktor penentu keberhasilan sebuah hubungan.

Yi-jin dan Hee-do berada dalam usia yang tepat untuk menikah, tetapi impian, tekanan hidup, dan ketidaksiapan mereka membuat hubungan tersebut tidak bisa bertahan.

Jadi, jika kamu berpikir untuk menikah, ingatlah bahwa lebih dari sekadar usia, kesiapan mental, emosional, dan kestabilan hidup adalah faktor utama dalam membangun pernikahan yang bahagia dan langgeng. Karena seperti yang diajarkan oleh Twenty-Five Twenty-One, cinta saja tidak selalu cukup untuk bertahan.

.

.

.

.

.

.

Referensi:

• Antara News – "BKKBN: Umur Ideal Menikah Lelaki 25 Tahun dan Perempuan 21 Tahun"

• Detik News – "Cegah Pernikahan Dini, Ini Alasan Menikah di Usia 21 Tahun Lebih Baik"

• KapanLagi Korea – "Bukan Cuma Kisah Hee-do dan Yi-jin, Ini 5 Hal yang Mencuri Perhatian di Twenty-Five Twenty-One"

• CNN Indonesia – "Alasan Cinta Pertama Seperti Baek Yi-jin dan Na Hee-do Sulit Dilupakan"

Jumat, 31 Januari 2025

KAMU BISA MEMBANTU PERANGI HIV/AIDS DI KALIMANTAN SELATAN! YUK, CARI TAHU CARANYA!

Oleh: Emelia, Divisi Eksternal Organisasi


Kamu Bisa Membantu Perangi HIV/AIDS di Kalimantan Selatan! Yuk, Cari Tahu Caranya!

Hai, GenRangers! 

       Bayangkan ini, di tengah gemerlap kota Banjarmasin, di balik hiruk-pikuk pasar terapung, atau di pelosok desa yang tenang di Kalimantan Selatan, ada sebuah perjuangan yang sering kali tak terlihat. Perjuangan melawan HIV/AIDS. Meskipun penyakit ini mungkin terasa jauh dari keseharian kita, faktanya, HIV/AIDS masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Kalimantan Selatan. 

   Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan dan Kementerian Kesehatan RI, kasus HIV/AIDS di wilayah kita menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Meskipun persentase kasusnya mungkin lebih rendah dibandingkan provinsi lain, jumlah penderitanya terus meningkat setiap tahunnya. Misalnya, pada tahun 2022, dilaporkan bahwa persentase kasus HIV/AIDS di Kalimantan Selatan mencapai sekitar 0,1% dari total populasi. Angka ini mungkin terlihat kecil, tetapi di baliknya ada ratusan bahkan ribuan nyawa yang terdampak. Beradasarkan dari data penemuan Dinas Kesehatan Provinsi Kaimantan Selatan, kasus HIV/AIDS di Kalimantan selatan sendiri terhitung dari Januari-Oktober 2024 estimasi kasus yang ada di Kalimantan selatan mencapai angka 904, di mana Banjarmasin menduduki peringkat pertama dengan 221 kasus yang sudah ditemukan.

    Nah, kabar baiknya adalah kamu bisa ikut berperan aktif dalam memerangi HIV/AIDS di Kalimantan Selatan! Yuk, simak caranya dan mari kita mulai dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan bersama! 

 1. Edukasi Diri dan Orang Lain Tentang HIV/AIDS 

     Pernah dengar mitos-mitos tentang HIV/AIDS? Misalnya, HIV bisa menular lewat gigitan nyamuk atau berpelukan? Yuk, kita luruskan! 

    HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sementara AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV. HIV ini tidak menular melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, atau berbagi makanan. Penularan terjadi melalui hubungan seks tidak aman, penggunaan jarum suntik tidak steril, dan transfusi darah yang tidak terjamin keamanannya. Sekarang, tanyakan pada diri sendiri, "Sudahkah aku benar-benar paham tentang HIV/AIDS?" 

 2. Dukung Program Pencegahan dan Pengobatan 

   Tahukah kamu, di Kalimantan Selatan ada banyak layanan kesehatan yang menyediakan tes HIV gratis? Kamu bisa membantu dengan mengajak teman, keluarga, atau pasangan untuk melakukan tes HIV secara rutin. Kamu dapat menyebarkan informasi tentang layanan tes HIV di puskesmas atau rumah sakit terdekat, kamu juga bisa mendukung program pencegahan seperti distribusi kondom dan jarum suntik steril. Cari tahu di mana lokasi tes HIV terdekat di kotamu dan ajakin satu orang terdekatmu untuk ikut tes HIV. Siapa tahu, kamu bisa menyelamatkan hidupnya! 

 3. Lawan Stigma dan Diskriminasi 

     Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) masih menjadi masalah besar di Kalimantan Selatan. Banyak penderita yang enggan mencari pengobatan karena takut dikucilkan. Kamu bisa membantu mengubah ini dengan menunjukkan sikap empati dan dukungan kepada ODHA. Ingat, mereka adalah bagian dari masyarakat yang membutuhkan dukungan, bukan penghakiman. Menyebarkan pesan bahwa ODHA bisa hidup produktif dan berkualitas asalkan mendapatkan pengobatan yang tepat, jika kamu punya teman atau kenalan yang hidup dengan HIV/AIDS, tanyakan kabarnya dan tawarkan dukungan. 

 4. Jadi Relawan atau Donatur 

    Banyak LSM dan organisasi kesehatan yang aktif bekerja di Kalimantan Selatan untuk memerangi HIV/AIDS. Kamu bisa bergabung sebagai relawan atau memberikan donasi untuk mendukung kegiatan mereka. Beberapa kegiatan yang bisa kamu ikuti antara lain sosialisasi dan kampanye pencegahan HIV/AIDS di sekolah, kampus, atau komunitas maupun pendampingan bagi ODHA untuk memastikan mereka mendapatkan pengobatan dan dukungan psikologis. 

 5. Jadilah Contoh yang Baik 

    Perubahan besar selalu dimulai dari diri sendiri. Kamu bisa menjadi contoh dengan menerapkan perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab, seperti setia pada satu pasangan dan menghindari penggunaan narkoba. Mengedukasi teman, keluarga, dan orang terdekat tentang pentingnya pencegahan HIV/AIDS. Jadi, mulai dari sekarang, terapkan pola hidup sehat dan ajak orang terdekatmu untuk melakukan hal yang sama. 

Mari Bersatu Melawan HIV/AIDS! 

    HIV/AIDS bukanlah masalah yang bisa diselesaikan oleh pemerintah atau tenaga kesehatan saja. Dibutuhkan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat, termasuk kamu, untuk memerangi penyakit ini. Dengan edukasi, dukungan, dan aksi nyata, kita bisa menekan angka kasus HIV/AIDS di Kalimantan Selatan dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi semua. 

"Kekuatan mu menginspirasi banyak orang. Teruslah berjuang, karena setiap napasmu adalah bukti bahwa harapan selalu ada. Jangan biarkan stigma mengalahkanmu, kamu layak dicintai, dihargai, dan dihormati seperti orang lain."

.

.

.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, mulai dari sekarang! 

- Share artikel ini ke media sosialmu. 

- Tandai teman-temanmu dan ajak mereka untuk ikut beraksi! 

- Tulis di kolom komentar: "Aku siap membantu perangi HIV/AIDS di Kalimantan Selatan!" 

Bersama-sama, kita bisa membuat perubahan! 💪 

 

Sumber Data: 

- Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan 

- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) 

- Laporan Indonesia AIDS Coalition 


Instagram @pikmabrmulm

 

Minggu, 24 Maret 2024

MEMAAFKAN, PERMINTAAN MAAF, DAN CARA MELEPASKAN EMOSI NEGATIF

 

Oleh: Hening Putri Maharani

 SumberKrakenimages.com

        Hai, GenRengers! Selamat datang lagi di blog PIK-Ma "BRM" ULM yang selalu dipenuhi dengan semangat yang membara! Hari ini, kita akan memasuki insight baru yang tak kalah menarik dan menginspirasi, yaitu memaafkan dengan tulus, memahami kekuatan dalam meminta maaf, dan menemukan cara-cara yang efektif untuk melepaskan diri dari belenggu emosi negatif. Siapkan diri untuk mengarungi lautan pengetahuan dan pemahaman yang menakjubkan bersama-sama!

        Memaafkan dan permintaan maaf akan selalu menjadi kebutuhan dalam kehidupan manusia, hal ini dikarenakan manusia tidak akan pernah terlepas dari dosa dan kesalahan. Memaafkan adalah menerima apa yang sudah terjadi dan berusaha melupakan kejadian tersebut. Kita tak bisa mengelak dari apa yang sudah terjadi dan terlewati karena itu merupakan bagian dari kehidupan kita. Kesakitan yang menimpa diri kita merupakan takdir yang harus kita terima dengan ikhlas. Memaafkan juga adalah sebuah proses, dan dalam proses tersebut, kita berupaya untuk menerima emosi negatif terhadap peristiwa yang terjadi. Kemudian, kita memiliki keinginan untuk melepaskan seluruh emosi negatif tersebut. Pada akhirnya, proses ini akan mengantarkan kita pada perubahan emosi negatif menjadi rasa damai, dan lega. Ketika seseorang memberikan maaf, mereka tidak lagi dikuasai oleh emosi negatif terhadap orang atau situasi tertentu.

        Seringkali orang berpikir bahwa memaafkan jauh lebih mudah dilakukan daripada meminta maaf. Namun sebenarnya, memaafkan yang jauh lebih susah daripada meminta maaf. hal ini dikarenakan perbuatan yang menyakiti kita terbentuk menjadi emosi negatif sehingga kita merasa bahwa orang yang berbuat salah kepada kita tidak layak menerima maaf. Memaafkan juga sulit dilakukan seseorang, karena manusia cenderung mengandalkan pikiran dan emosinya, hal ini menimbulkan reaksi dalam diri untuk memprioritaskan diri sendiri di atas orang lain, sehingga ketika seseorang berbuat kesalahan, emosi dan ego dalam diri kita menolak dengan keras untuk memaafkan orang tersebut dan mengingat semua kesalahan-kesalahan yang diperbuat olehnya itu tidak layak untuk dimaafkan.

        Dalam memaafkan seseorang, ada banyak faktor yang mempengaruhi kita untuk memaafkan seseorang, sehingga sangat berat rasanya untuk memaafkan seseorang. Ada beberapa cara yang bisa kita terapkan untuk memaafkan seseorang: 

  1. Berkomitmen pada diri sendiri untuk memaafkan kesalahan seseorang terhadap kita; 
  2. Menerima bahwa setiap manusia pasti memiliki kesalahan; 
  3. Mengatasi pikiran kita dengan melepaskan emosi negatif yang kita miliki terhadap orang yang berbuat salah kepada kita; 
  4. Menerima apa yang sudah terjadi dan berusaha untuk melupakan kejadian. Kita tak bisa mengelak apa yang sudah terjadi dan terlewati karena itu sudah bagian dari takdir kehidupan. Kesakitan yang menimpa diri kita merupakan takdir yang harus kita terima dengan ikhlas; 
  5. Merenungkan dan menanyakan pada diri kita sendiri apa dampak dari kita memendam semua emosi negatif ini, apa untungnya bagi kita, dan apa kerugian yang kita dapatkan dari memendam emosi negatif ini. 

        Memendam emosi negatif tidaklah membuat kesalahan yang diperbuat terhadap kita menghilang, tidak akan membuat orang yang bersalah kepada kita menyesali tindakan nya. Memendam emosi negatif justru merugikan diri kita, menghilangkan damai dan sejahtera dalam hidup kita.

        Kita tahu bahwa tidak semua masa lalu bisa kita dilupakan, dan tidak semua kesalahan bisa kita maafkan. Ada kesalahan yang kita anggap tidak layak untuk dimaafkan, ada pula permintaan maaf yang tidak mau kita ucapkan karena kita merasa tidak bersalah. Namun ada baiknya jika kita bisa mulai menerima dengan lapang dada kejadian menyakitkan di masa lalu dan melepaskan semua emosi negatif dalam diri kita sehingga kita akan merasa lebih tenang, damai dan lega. Meminta maaf juga bukan berarti bahwa kita adalah pihak yang salah, tetapi untuk membuat diri kita terlepas dari emosi negatif dan kita bisa merasa lega serta damai.

        Memaafkan dan meminta maaf adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, karena tak satupun dari kita terlepas dari dosa dan kesalahan. Memaafkan bukanlah tugas yang mudah, tetapi merupakan proses penting untuk melepaskan emosi negatif yang membebani kita. Ketika kita memberikan maaf, kita juga membebaskan diri dari belenggu emosi negatif terhadap orang atau situasi tertentu.

        Tidaklah mudah untuk melupakan masa lalu atau memaafkan kesalahan yang sangat menyakitkan. Namun, dengan menerima kejadian yang telah terjadi dan melepaskan emosi negatif, kita dapat meraih ketenangan dan kedamaian dalam hidup. Meminta maaf juga bukan berarti kita mengakui kesalahan, tetapi merupakan langkah untuk meraih kedamaian dan kedamaian batin.

    GenRengers, kita telah membahas topik yang mendalam ini.Teruslah berjuang, teruslah berkembang, dan jangan ragu untuk mencari bantuan ketika diperlukan. Bersama-sama, kita bisa mengatasi tantangan dan menemukan kembali esensi diri yang mungkin telah terlupakan. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya! Tetap semangat, GenRengers!

 

Sabtu, 16 Maret 2024

Mental Health dan Menemukan Kembali Diri yang Hilang

Oleh: Hening Putri Maharani  

Sumber: vehicleofwisdom.com

     Halo, GenRengers! Selamat datang kembali di blog kita yang penuh semangat! Kali ini, kita akan membahas topik yang sangat penting dan seringkali terlupakan, yaitu tentang kesehatan mental dan bagaimana menemukan kembali diri yang mungkin telah terlupakan. Yuk, simak bersama untuk menambah insight baru!


    Kesehatan mental adalah kondisi penting kesehatan manusia yang memiliki kaitan dengan psikis, emosi dan kejiwaan manusia. Kesehatan mental sama pentingnya seperti kesehatan fisik. Tubuh bisa dikatakan sehat ketika mental dan fisiknya sehat. Kesehatan mental sangat penting dan haruslah di perhatikan oleh setiap individu karena hal ini merupakan keadaan psikis seseorang yang bisa saja berdampak negatif terhadap kejiwaan seseorang dan membuat nya terkena gangguan mental. 

    Menurut World Health Organization (WHO), ada satu dari lima anak-anak dan remaja di dunia memiliki gangguan mental. Sementara pada orang dewasa, kondisi ini memengaruhi satu dari empat orang di dunia. Sedangkan mengacu pada data dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), sekitar 1 dari 10 orang di Indonesia mengidap gangguan mental.

    Bahkan, bisa dilihat juga di lingkungan sekitar kita, atau mungkin diri kita sendiri bisa saja sudah mengalami gejala gangguan mental tanpa kita sadari, hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di Indonesia. Jadi, perlu disadari oleh kita semua pentingnya kesehatan mental bagi seseorang, apa gejalanya, apa dampaknya bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar, serta bagaimana cara menanganinya. 

    Di dalam hidup ini, perlu diketahui bahwa peristiwa dalam hidup yang berdampak besar pada kepribadian dan perilaku seseorang bisa berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Misalnya pelecehan, pembullyan, stress berat, kekerasan dalam rumah tangga dan hal-hal negatif lain yang dialami oleh seseorang yang membuat kondisi kejiwaan seseorang terganggu, sehingga menyebabkan seseorang terkena gangguan kesehatan jiwa.

     Gangguan kesehatan mental seseorang juga berdampak buruk baik bagi individu maupun bagi banyak orang. Permasalahan besar yang di alami oleh kebanyakan penderita gangguan kesehatan mental adalah mereka kehilangan dirinya sendiri. Gangguan kesehatan mental dapat membunuh karakter dan kepribadian seseorang, hingga seseorang tersebut kehilangan dirinya sendiri. 

    Ada kalanya kita sampai pada masa-masa yang penuh konflik ketika keinginan tidak sejalan dengan relita, ketika kita dibebankan oleh harapan orang-orang yang terlalu tinggi yang tidak sejalan dengan keinginan kita, dikhianati oleh teman dekat, gagal dalam suatu pencapaian, patah hati, dan hal lainnya yang menyumbang kecemasan dan rasa frustasi yang bisa menjadi penyebab kita kehilangan diri sendiri.

    Kehilangan diri sendiri, seringkali membuat kita bertanya-tanya siapa, apa dan mau kemana diri kita sebenarnya, namun kita tidak mendapatkan jawaban apapun. Dalam fase ini, kita akan merasa sedih, cemas, bimbang, dan tidak tahu akan berbuat apa. Kita bahkan akan menyalahkan diri sendiri atas pilihan-pilihan hidup yang telah kita ambil, dan pada akhirnya kita kehilangan kendali atas diri sendiri dan kehilangan arah kehilangan diri kita sendiri. Namun, jangan sampai hal tersebut menyelimuti diri kita selamanya. Kita harus bisa menghdapinya dengan penuh kesadaran bahwa kita mampu melewatinya.

    Langkah yang bisa kita ambil untuk menemukan diri kita kembali adalah dengan meluangkan waktu untuk berbicara dengan diri sendiri, waktu untuk diri kita bisa memahami setiap kesedihan, rasa cemas, bimbang, dan emosi-emosi dalam diri. Resapi setiap memori negatif yang muncul kemudian luapkan itu semua dalam bentuk emosi, lalu terimalah emosi-emosi tersebut dengan penuh kerelaan. Kita harus bisa menerima itu semua sebagai bagian diri kita. Terimalah diri kita secara utuh dengan kerelaan, tanpa penilaian, penghakiman, sehingga kita mampu menjadi lebih paham mengenai siapa diri kita, berdamai dengan diri sendiri dan bisa menemukan kembali diri sendiri yang hilang.

Sekian pembahasan kita kali ini, GenRengers! Ingatlah bahwa menjaga kesehatan mental adalah langkah pertama menuju pencapaian diri yang sesungguhnya. Dengan menyadari nilai pentingnya keseimbangan mental, kita dapat mengarungi kehidupan dengan lebih kuat dan bermakna. Teruslah berjuang, teruslah berkembang, dan jangan pernah ragu untuk mencari bantuan jika diperlukan. Bersama-sama, kita bisa mengatasi tantangan dan menemukan kembali esensi diri yang mungkin pernah hilang. Sampai jumpa di pembahasan berikutnya! Tetap semangat, GenRengers!



Minggu, 06 Desember 2020

 

 PENTINGNYA MEMBENTUK KONSEP DIRI YANG POSITIF UNTUK MENCEGAH PERILAKU BERISIKO

 

Apa itu konsep diri?

          Menurut Carl Rogers, penemu psikologi humanistik, konsep diri adalah pengetahuan seseorang tentang siapa dirinya, baik tentang kepribadian, kemampuan, dan perilaku. Konsep diri mulai tumbuh pada awal masa kanak-kanak dan terus berkembang sepanjang hidup manusia. Namun, konsep diri berkembang paling intens di masa remaja dan akan memberi landasan hidup remaja ke depannya. Alasannya, di masa remaja lah seseorang mencoba berbagai macam karakter dan peran. Karena itulah, masa remaja merupakan periode kunci bagi konsep diri.

 Apa yang mempengaruhi positif negatifnya konsep diri?

          Konsep diri terdiri dari tiga hal, yaitu pendapat remaja mengenai dirinya (self-image), cara  remaja menghargai dirinya dibandingkan dengan orang lain (self-esteem), dan sosok ideal yang remaja ingin capai (ideal self). Baik buruknya konsep diri akan bergantung pada sukses tidaknya remaja di area yang mereka anggap penting dan pendapat orang tentang dirinya. Penerimaan orang lain dan kesuksesan remaja akan memperkuat konsep diri dan harga dirinya.

          Sebagai contoh, jika remaja tidak memiliki banyak teman namun ukuran kesukesan baginya adalah memiliki banyak teman, maka ia akan mengangap dirinya gagal. Terlebih lagi, jika teman-temannya menganggap dirinya berbeda sehingga tidak pernah mengajaknya berinteraksi. Maka, ia akan memiliki konsep diri yang negatif juga memiliki kepercayaan diri yang rendah. Orang tua yang lebih banyak mengkritik dibandingkan memberi apresiasi juga dapat membuat remaja memiliki konsep diri negatif.

          Penelitian Curran & Hill yang dimuat di Psychological Bulletin tahun 2019 menunjukkan bahwa remaja usia kuliah di AS, Inggris, dan Kanada cenderung semakin perfeksionis, dan terkadang mematok standar yang tidak realistis untuk dirinya sendiri. Ini juga dapat membuat remaja selalu merasa gagal.

          Kondisi seperti ini rentan membuat terjerumus ke dalam perilaku berisiko, apalagi jika lingkungan tidak menyadarkan.

Bagaimana konsep diri yang negatif bisa mendorong terjadinya perilaku berisiko?

         Karena konsep diri berkaitan dengan seberapa baik remaja tersebut mengenal dirinya, maka remaja yang tidak tahu siapa dirinya akan berusaha mencari identitas diri dengan cara mencoba berbagai hal. Jika lingkungan pertemanannya ternyata rentan dengan perilaku berisiko, maka remaja akan lebih mudah terbawa arus mengingat penerimaan dari teman sebaya merupakan hal penting dalam hidupnya. Citra remaja “keren” yang ditunjukkan media juga dapat mendorong remaja mencoba hal berisiko, seperti seks bebas, merokok, narkoba.

          Cobain Deh 4 Cara Ini Biar Kamu Bisa Membentuk Konsep Diri Yang Positif

          Mungkin sekarang kamu sedang merasa “nggak guna” atau kecewa banget sama diri sendiri. Entah karena prestasi di kelas yang gitu-gitu aja atau karena ada kalimat dari orang terdekat yang nyelekit sampai-sampai bikin kecewa. Terkadang merasa kecewa dengan diri sendiri itu normal, tapi kalau kecewanya udah berlebihan, itu yang nggak baik buat perkembanganmu.

          Pikiran-pikiran negatif kayak gitu, kalau terlalu banyak atau sering, bisa mengganggu perkembangan konsep diri yang positif. Padahal, konsep diri yang positif tuh penting banget lho, biar mentalmu tetap sehat dan terus semangat! Nah mumpung masih muda, konsep dirimu harus dibentuk mulai dari sekarang. Biar dari sekarang sampai ke depannya nanti kamu punya konsep diri yang positif.

 

“Eh tapi gimana tuh caranya biar punya konsep diri yang positif?”

Biar nggak bingung, nih Dokter Gen Z punya caranya ~

1. Kamu harus objektif memandang diri

Buat kamu yang masih sering iri sambil bergumam “Ih kok enak ya jadi dia…” harus belajar sedikit lebih objektif lagi memandang diri sendiri. Ingat, setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Coba deh kamu merenung sesekali. Pikirkan baik-baik mana yang jadi kelebihanmu, kekuranganmu, potensimu, sampai passionmu. Sadari bahwa diri kamu itu individu yang unik, sehingga kamu nggak perlu banding-bandingin dengan orang lain. Dengan begitu kamu akan melihat dirimu sendiri dengan lebih objektif tanpa merasa berkecil hati.

 

2. Appreciate yourself!

Setelah kamu bisa lebih objektif memandang diri sendiri, sekarang saatnya kamu buat belajar untuk menghargai dirimu sendiri. Caranya gimana? Ya dengan melihat dan fokus pada kelebihan yang kamu punya saat ini. Kamu juga udah berusaha maksimal buat mengembangkan diri. Jadi ya, hargai perjuanganmu itu. Ingat, nggak ada orang lain yang lebih menghargai dirimu selain dirimu sendiri!

 

3. Jangan marah sama diri sendiri

Kamu perlu belajar untuk bertanggung jawab atas pilihanmu. Tapi jangan marah dan kecewa berlebih saat kamu menyadari bahwa pilihanmu itu kurang bijak. Ingat, semua orang pernah keliru. Karena itu jauh lebih penting berusaha memperbaiki kesalahanmu daripada berlarut kecewa dan marah sama diri sendiri. Kamu punya tanggung jawab atas apapun pilihanmu, kalau memang pilihanmu kurang bijak, yaudah cari cara untuk memperbaikinya. Daripada kecewa berlarut-larut dan malah berujung stres… 🙂

 

4. Terus berpikir positif ya

  “Lha kalau aku merasa hidupku sial terus gitu gimana bisa berpikir positif?”

 Bisa, kok. Coba fokus ke hal-hal positif yang bisa disyukuri dalam hidupmu. Kamu kan masih muda dan masih punya banyak potensi untuk dikembangkan. Percaya deh soal itu. Iya sih, kamu sekarang sedang struggle dengan banyak hal, tapi itu normal kok dialami semua orang seusia kita. Jadi ya dibuat enjoy aja. Ingat, sesudah kesulitan pasti muncul kemudahan selama kamu nggak nyerah di tengah jalan dalam mengembangkan potensi dirimu.

Dan yang harus kamu ingat, sedih, kecewa dan berbagai macam emosi negatif itu memang bagian dari kehidupan. Tapi jangan berlarut-larut. Remaja kayak kita masih punya masa depan yang panjang. Jangan sia-siakan masa depanmu dengan kecewa dan sedih berlarut-larut, ya. Tapi, kalau kamu emang merasa nggak bisa menghadapi emosi negatif itu sendirian, coba cari bantuan dari orang-orang yang kamu percaya, atau bantuan profesional dari konselor atau psikolog. Selalu berusaha jadi pribadi yang positif, supaya kita bisa mencintai diri sendiri dan mencapai mimpi-mimpi kita, ya ~

 

Konsep diri positif dapat membuat berpikir bahwa masa depan terlalu berharga untuk melakukan hal-hal berisiko. Untuk sampai ke titik tersebut, sangat membutuhkan bantuan orang tua dan lingkungan sekitar (teman sebaya) termasuk guru di sekolah. Beberapa cara dari situs Mindful ini dapat dilakukan untuk membangun konsep diri yang positif :

 

1. Melakukan aktivitas fisik

 

Kita sebetulnya mulai sadar akan penampilan dan bentuk tubuh. Olahraga, paskibra, menari dapat membuat lebih sehat dan percaya diri.

 

2. Cintai diri sendiri

 

Jangan selalu membandingkan diri dengan orang lain. Sebaliknya, terimalah kekurangan diri, beri apresiasi diri sendiri jika telah berusaha maksimal.

 

3. Fokus pada kelebihan

 

Menemukan minat dan bakat dapat membuat kita memiliki konsep diri yang positif. Lakukan aktivitas yang dapat mengasah minat tersebut.

 

4. Membantu orang lain

 

Membantu orang lain yang tidak dikenal, termasuk aktif dalam gerakan kemanusiaan dan lingkungan, membuat kita merasa memiliki dampak positif di luar diri kita sendiri.

Minggu, 15 November 2020

 

SOSIAL DISTANCING

 

Apa itu Sosial Distancing?

          Social distance atau social distancing adalah sebuah praktek dalam kesehatan masyarakat untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dengan orang sehat guna mengurangi peluang penularan penyakit.  Tindakan ini bisa dilakukan dengan cara seperti membatalkan acara kelompok atau menutup ruang publik, serta menghindari keramaian.

          Jadi, Social distancing merupakan strategi kesehatan publik yang direkomendasikan publik untuk mencegah, melacak dan menghambat penyebaran virus.

 

Mengapa sosial distancing itu penting?

          Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto mengumumkan jumlah pasien corona bertambah 130 kasus pada Minggu (29/3/2020). "Ada penambahan kasus baru positif sebanyak 130 orang, sehingga jumlah sekarang menjadi 1.285 (kasus)," kata Yurianto di Graha BNPB, Minggu (29/3/2020). Dari total jumlah kasus tersebut, pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh bertambah lima orang, sehingga total yang sudah dinyatakan negatif Covid-19 sebanyak 64 orang. Sementara sebanyak 114 pasien meninggal dunia. Jumlah itu bertambah 12 pasien dari hari sebelumnya atau Sabtu (28/3/2020).

           Dalam upaya menangani wabah virus Corona yang semakin meluas, pemerintah menganjurkan masyarakat untuk menerapkan social distancing atau pembatasan sosial.

 

Bagaimana pengaruh terhadap mahasiswa?

          Corona yang menjadi Pandemi di Indonesia yang mengakibatkan libur kuliah dadakan oleh beberapa Perguruan Tinggi baik Swasta maupun Negeri kurang lebih selama kurun waktu dua minggu. Tentunya kondisi ini tidak menjadi penghalang bagi Mahasiswa untuk tetap produktif di rumah karena eranya sekarang ada Kuliah Daring. Mungkin ini akan terasa asing di telinga bagi mereka yang sebelumnya memang tidak melaksanakannya. Kuliah Daring ini faktanya menuai beberapa kontroversi hingga sentilan-sentilan rumor.         

          Maraknya video berdurasi singkat yang tak hanya dibuat oleh oknum Mahasiswa saja, melainkan Pelajar tingkat Dasar hingga perguruan tinggi sebagai unjuk rasa tentang Kuliah Daring. Parodi video yang mengandung unsur mulai dari keluhan-keluhan Mahasiswa yang mendapatkan tugas begitu banyak dari Dosennya hingga video yang memiliki isi positive thingking tentang kuliah Daring telah banyak beredar di Media Sosial terutama Instagram. Karena namanya adalah online, sudah pasti sistem perkuliahan ini lebih memberikan keuntungan pada sisi fleksibilitasnya, terutama dari segi waktu serta tempat. Selain itu, sistem perkuliahan ini juga memiliki kelebihan yang lainnya, antara lain:

§   Lebih ringkas dengan tidak banyaknya formalitas di dalam kelas. Pembelajaran juga bisa langsung mengulas pada hal yang tengah dibahas saat itu sehingga waktu pembelajaran bisa menjadi lebih singkat

§   Dengan adanya media chating pada sistem perkuliahan online ini, mahasiswa bisa menjadi lebih fleksibel dalam melakukan tanya jawab

§   Mahasiswa bisa menjadi lebih aktif untuk mencari ilmu secara mandiri

Kekurangan Kuliah Online, antara lain:

§   Kekurangan yang paling tampak adalah diperlukannya beberapa peralatan pendukungnya, dalam hal ini adalah laptop dan internet.

§   Bila peralatan yang dibutuhkan untuk mengakses materi kurang memadai seperti koneksi intenet yang lambat atau bahkan putus, ada kemungkinan mahasiswa untuk mengalami frustasi.

          Salah satu mahasiswa yang mewakili mahasiswa yang lain mengungkapkan bahwa “Pengaruh sosial distancing ini mungkin dari kebanyakan orang menganggap sangat mengganggu apa lagi terhadap orang yang suka sosial atau pekerjaan mereka menyangkut dengan sosial kepada orang lain, tapi dalam pandangan saya sebagai mahasiswa dan tidak terlalu banyak kerjaan yang menuntut untuk bersosialisasi, jadi tidak terlalu berpengaruh, tambahnya kepribadian yang emang dari awalnya tidak terlalu tertarik dengan yang namanya bersosial yang terlalu berlebih, dalam artian terlalu banyak berkumpul dalam waktu yang lama dalam 1 tempat namun harapan saya semoga pandemi ini cepat berakhir supaya bisa beraktivitas dan kuliah seperti biasanya”.

 

Bagaimana penerapan sosial distancing?

            Ketika menerapkan social distancing, seseorang tidak diperkenankan untuk berjabat tangan serta menjaga jarak setidaknya 1 meter saat berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan orang yang sedang sakit atau berisiko tinggi menderita COVID-19.

          Selain itu, ada beberapa contoh penerapan social distancing yang umum dilakukan, yaitu:

1.    Bekerja dan ibadah dirumah.

2.    Belajar di rumah secara online bagi siswa sekolah dan mahasiswa.

3.    Jauhi kerumunan.

4.    Minimalisir bersentuhan dan berdekatan dengan oranglain.

5.    Menunda kegiatan massal atau acara yang dihadiri orang banyak, seperti konferensi, seminar, dan rapat, atau melakukannya secara online lewat konferensi video atau teleconference.

6.    Tidak mengunjungi orang yang sedang sakit, melainkan cukup melalui telepon atau video call.

7.    Usahakan berjemur matahari diteras rumah.

8.    Pastikan sirkulasi udara baik sehingga terhindar dari ruangan lembab.