Kamis, 20 November 2025

Cinta, Komitmen, dan Realita: Mengapa Menunda Pernikahan Bisa Lebih Baik?

Cinta, Komitmen, dan Realita: Mengapa Menunda Pernikahan Bisa Lebih Baik? 

Penulis: Salsa dan Radiya 


Menikah adalah keputusan besar yang tak hanya soal cinta, tapi juga kesiapan fisik, mental, dan ekonomi. Di tengah tuntutan pendidikan dan karier, menunda pernikahan bukan berarti takut berkomitmen, melainkan bentuk komitmen yang lebih matang dan realistis. Mari Kita bahas beberapa poin penting terkait “Cinta, Komitmen, dan Realita: Mengapa Menunda Pernikahan Bisa Lebih Baik.

1. Menunda Pernikahan Demi Pendidikan adalah Mempersiapkan Masa Depan yang Lebih Baik 

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang sangat penting untuk membangun kehidupan keluarga yang stabil. Melanjutkan pendidikan hingga tuntas memberi bekal ilmu dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup dan rumah tangga. Menunda menikah demi menyelesaikan pendidikan bukan berarti menghindari tanggung jawab, tapi menunjukkan keseriusan mempersiapkan diri agar kelak bisa menjadi pasangan dan orang tua yang berkualitas.  

Selain itu, usia ideal menikah menurut BKKBN adalah minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki, karena pada usia tersebut seseorang dianggap sudah cukup matang secara fisik dan mental untuk menjalani pernikahan dan membangun keluarga yang harmonis. Menunda pernikahan hingga mencapai usia ideal ini membantu mengurangi risiko kesehatan reproduksi dan meningkatkan kesiapan mental.

2. Fokus pada Karier Untuk Membangun Kemandirian dan Stabilitas Finansial

Karier yang mapan adalah salah satu fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang sehat dan bahagia. Menunda pernikahan memberi kesempatan untuk fokus mengembangkan karier, mencapai stabilitas finansial, dan membangun kemandirian. Pasangan yang sudah mandiri secara ekonomi biasanya lebih siap menghadapi tanggung jawab rumah tangga dan mampu memberikan dukungan yang lebih baik satu sama lain.

Kesiapan ekonomi ini sejalan dengan rekomendasi BKKBN yang menyarankan laki-laki menikah pada usia 25 tahun, saat diharapkan sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan yang stabil untuk menafkahi keluarga. Dengan demikian, menunda pernikahan demi karier bukan berarti menghindari komitmen, melainkan mempersiapkan fondasi yang kuat untuk membangun keluarga.


3. Komitmen Lebih dari Sekadar Usia
Komitmen sejati dalam hubungan tidak diukur dari seberapa cepat seseorang menikah, melainkan dari keseriusan dan kesiapan menjalani kehidupan bersama. Menunda pernikahan demi pendidikan dan karier justru menunjukkan komitmen yang lebih dalam, karena pasangan berusaha memastikan kesiapan fisik, mental, dan finansial sebelum memulai babak baru dalam hidup.
Usia hanyalah angka; kesiapan mental dan emosional jauh lebih penting dalam menentukan keberhasilan pernikahan. Setiap individu memiliki tingkat kedewasaan yang berbeda- beda, sehingga keputusan menunda menikah bisa menjadi bentuk penghormatan terhadap proses tumbuh kembang pribadi yang sehat.

Kesimpulan
Menunda pernikahan demi pendidikan dan karier adalah langkah bijak yang tidak menunjukkan ketakutan terhadap komitmen, melainkan komitmen yang lebih matang dan penuh perhitungan. Dengan memprioritaskan kesiapan fisik, mental, dan ekonomi, seseorang mempersiapkan diri untuk membangun keluarga yang lebih harmonis dan berkelanjutan. Jadi, menunda menikah bukanlah kelemahan, melainkan investasi penting untuk masa depan yang lebih baik bersama pasangan.

Referensi
Antara News “Kapan waktu yang tepat untuk menikah?”
Bayali, C. (2013). Menunda pernikahan bagi wanita karir menurut hukum islam. Hukum Islam, 13(1), 84-96.

Raihana, S. N. (2024). Analisis sosiokultural penundaan pernikahan pada wanita karir: Studi kasus Kota Depok. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 2(1), 17-29.

Pentingnya Kesadaran Akan Kesehatan Seksual dan Reproduksi: Bukan Lagi Hal Tabu!

Pentingnya Kesadaran Akan Kesehatan Seksual dan Reproduksi: Bukan Lagi Hal Tabu!

Penulis: Lia dan Ersa

Hai, GenRangers!

Mari kita bicara tentang sesuatu yang fundamental, tapi seringkali masih diselimuti rasa canggung dan dianggap tabu, kesehatan seksual dan reproduksi (KSR). Padahal, pemahaman yang baik tentang KSR adalah kunci untuk menjalani hidup yang lebih sehat, aman, dan berkualitas.

Mengapa KSR Sering Dianggap Tabu?

Di banyak budaya, termasuk di Indonesia, pembahasan tentang seksualitas dan reproduksi seringkali dihindari. Topik ini cenderung dianggap privat, sensitif, atau bahkan tidak pantas untuk dibicarakan secara terbuka. Akibatnya, banyak dari kita yang kurang mendapatkan informasi yang akurat dan komprehensif, terutama dari sumber yang terpercaya. Kebanyakan informasi didapatkan dari teman sebaya, internet tanpa filter, atau bahkan mitos-mitos yang beredar.

Dampak Buruk dari Kurangnya Edukasi KSR

Ketika edukasi KSR kurang, dampaknya bisa sangat serius, lho:

  1. Peningkatan Angka Penyakit Menular Seksual (PMS)

Kurangnya pemahaman tentang cara penularan dan pencegahan PMS dapat meningkatkan risiko infeksi.

  1. Kehamilan Tidak Direncanakan

Minimnya informasi tentang kontrasepsi dan perencanaan keluarga dapat menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan, terutama pada usia muda.

  1. Risiko Kekerasan Seksual

Edukasi KSR juga mencakup pemahaman tentang hak-hak tubuh, persetujuan, dan bagaimana mengenali serta mencegah kekerasan seksual.

  1. Masalah Kesehatan Reproduksi yang Tidak Terdeteksi

Banyak kondisi seperti gangguan menstruasi, masalah kesuburan, atau bahkan kanker serviks yang seringkali terlambat dideteksi karena kurangnya kesadaran untuk memeriksakan diri atau berkonsultasi.

  1. Stigma dan Diskriminasi Kurangnya pemahaman dapat memicu stigma terhadap individu dengan orientasi seksual atau identitas gender tertentu, atau bahkan terhadap mereka yang menghadapi masalah KSR.

Mengapa Kita Perlu Berani Bicara tentang KSR?

Membongkar tembok tabu ini bukan hanya tentang "berani" bicara, tapi tentang kebutuhan mendasar untuk:

1.     Meningkatkan Pengetahuan dan Kesadaran

Dengan informasi yang benar, kita bisa membuat keputusan yang lebih bijak mengenai tubuh dan masa depan kita.

2.     Mencegah Penyakit dan Masalah Kesehatan

Edukasi KSR membantu kita memahami cara menjaga kesehatan organ reproduksi, mencegah PMS, dan mengenali gejala penyakit.

3.     Memberdayakan Individu

Memiliki pengetahuan tentang KSR berarti memiliki kontrol atas tubuh dan pilihan reproduksi kita. Ini penting untuk perempuan maupun laki-laki.

4.     Menciptakan Lingkungan yang Lebih Aman

Diskusi terbuka tentang KSR dapat membantu membangun masyarakat yang lebih inklusif, toleran, dan melindungi individu dari kekerasan atau diskriminasi.

5.     Membangun Komunikasi Keluarga yang Sehat

Orang tua yang terbuka untuk mendiskusikan KSR dengan anak-anaknya dapat membimbing mereka dengan lebih baik dan membangun kepercayaan.

Mari Kita Mulai Perubahan!

Edukasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan sebuah investasi untuk masa depan yang lebih sehat dan bahagia. Pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, keluarga, dan masyarakat memiliki peran penting untuk menciptakan ruang yang aman dan terbuka bagi diskusi tentang KSR.

Mari kita berani memulai percakapan ini. Mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar. Semakin banyak kita bicara, semakin banyak kita memahami, dan semakin sehat pula kehidupan kita.

Apa pendapatmu tentang pentingnya KSR? Yuk, bagikan di kolom komentar!

Referensi:

https://indonesia.unfpa.org/en/publications/modul-pendidikan-kesehatan-reproduksi-remaja-luar-sekolah

https://ayosehat.kemkes.go.id/pentingnya-menjaga-kebersihan-alat-reproduksi

Minggu, 24 Agustus 2025

Bucin Cewek vs Cowok: Bedanya di Hormon, Bukan Cuma Perasaan!

Penulis: Emelia, Divisi Eksternal Organisasi

Bucin Cewek vs Cowok: Bedanya di Hormon, Bukan Cuma Perasaan!

Falling in love is not just about the heart, it’s also about chemistry in the brain.” – Helen Fisher

“Cinta itu buta.” Kalimat ini sering jadi bahan candaan, bahkan diledekin ke teman yang lagi klepek-klepek sama pasangan. Tapi pernahkah kamu berpikir kalau ternyata bucin memang punya dasar ilmiahnya?

Bukan sekadar perasaan, ternyata fenomena bucin erat kaitannya dengan kerja hormon di dalam tubuh kita. Dan menariknya lagi, cewek dan cowok punya pola bucin yang berbeda bukan karena sifat, tapi karena hormon dominan yang berperan saat jatuh cinta.

Selasa, 10 Juni 2025

Dari Coba-Coba Jadi Candu: Waspadai Penyalahgunaan NAPZA!

Dari Coba-Coba Jadi Candu: Waspadai Penyalahgunaan NAPZA!

Penulis: Ariadi dan Fajar, Editor: Emelia


"Ah, cuma sekali kok," atau "Biar gaul aja," mungkin terdengar seperti alasan sepele di awal. Namun, tahukah kamu bahwa gerbang menuju jurang penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza) seringkali terbuka lebar dari rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba? Ironisnya, yang awalnya sekadar "coba-coba" bisa berujung pada kecanduan yang menghancurkan hidup.

Memahami Lebih Dalam: Apa Itu Napza?

Secara umum, Napza adalah istilah yang mencakup tiga kelompok zat yang memiliki pengaruh psikoaktif terhadap sistem saraf pusat jika dikonsumsi. Pengaruh psikoaktif ini dapat menyebabkan perubahan pada suasana hati, pikiran, perasaan, persepsi, dan perilaku penggunanya. Ketiga kelompok zat tersebut adalah:

 Narkotika: Golongan zat ini memiliki potensi tinggi menyebabkan ketergantungan dan diklasifikasikan berdasarkan potensi adiktifnya. Contoh narkotika alami adalah ganja dan kokain (berasal dari tanaman). Contoh narkotika sintetis dan semi-sintetis antara lain heroin, morfin, dan petidin. Penggunaan narkotika umumnya dilarang kecuali untuk tujuan pengobatan di bawah pengawasan dokter.

 Psikotropika: Golongan zat ini memengaruhi aktivitas mental dan perilaku melalui mekanisme kerjanya pada otak. Psikotropika diklasifikasikan berdasarkan potensi ketergantungan dan efek farmakologisnya. Contoh psikotropika antara lain amfetamin (shabu, ekstasi), benzodiazepine (diazepam, alprazolam), dan LSD. Beberapa jenis psikotropika digunakan dalam pengobatan gangguan mental, namun penggunaannya harus sesuai resep dokter.

 Zat Adiktif Lain: Kelompok ini mencakup zat-zat lain yang tidak termasuk narkotika atau psikotropika, namun dapat menyebabkan ketergantungan. Contoh zat adiktif lain yang sering disalahgunakan adalah alkohol, nikotin (pada rokok), kafein (dalam dosis tinggi), inhalansia (lem, thinner), dan zat adiktif lainnya.

Beragam Jenis, Beragam Bahaya

Setiap jenis Napza memiliki karakteristik dan efek yang berbeda-beda terhadap tubuh dan psikologis. Beberapa jenis Napza yang sering disalahgunakan di antaranya:

 Ganja (Marijuana): Dapat menyebabkan gangguan pada daya ingat, konsentrasi, persepsi waktu, dan koordinasi. Penggunaan jangka panjang dikaitkan dengan risiko gangguan pernapasan dan masalah kesehatan mental.

 Heroin: Merupakan opioid yang sangat adiktif. Penggunaan heroin dapat menyebabkan depresi pernapasan, overdosis yang fatal, dan berbagai komplikasi kesehatan terkait penggunaan jarum suntik.

 Sabu (Methamphetamine): Stimulan kuat yang dapat menyebabkan euforia, peningkatan energi, dan penurunan nafsu makan. Efek jangka panjang meliputi kerusakan otak, masalah jantung, dan gangguan psikotik.

 Ekstasi (MDMA): Psikotropika yang dapat menimbulkan perasaan euforia, peningkatan empati, dan distorsi persepsi. Penggunaan ekstasi berisiko menyebabkan dehidrasi, hipertermia, dan masalah jantung.

 Alkohol: Depresan sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan gangguan koordinasi, penurunan kesadaran, dan kerusakan organ hati serta otak jika dikonsumsi berlebihan dan dalam jangka panjang.

 Nikotin: Zat adiktif dalam rokok yang sangat kuat. Merokok meningkatkan risiko berbagai penyakit serius seperti kanker, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan.

 Inhalansia: Uap dari zat kimia seperti lem atau thinner yang dihirup untuk mendapatkan efek memabukkan sesaat. Penggunaan inhalansia sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen, gagal jantung, dan kematian mendadak.

Mengapa Seseorang Terjerumus dalam Penggunaan Napza?

Ada berbagai faktor kompleks yang dapat mendorong seseorang untuk mencoba dan akhirnya menggunakan Napza secara berulang. Beberapa penyebab umum meliputi:

 Rasa Ingin Tahu dan Coba-coba: Terutama pada remaja dan dewasa muda, rasa penasaran terhadap efek Napza dan keinginan untuk mencoba pengalaman baru dapat menjadi pemicu awal.

 Tekanan Teman Sebaya: Keinginan untuk diterima dalam kelompok pergaulan tertentu atau takut dianggap "tidak gaul" dapat mendorong seseorang untuk menggunakan Napza, meskipun mereka sebenarnya tidak ingin.

 Mengatasi Stres dan Masalah Emosional: Beberapa orang menggunakan Napza sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah, mengatasi stres, kecemasan, depresi, atau trauma masa lalu. Mereka mencari "pelarian" sesaat dari realitas yang sulit.

 Pengaruh Lingkungan: Lingkungan keluarga atau komunitas yang permisif terhadap penggunaan Napza, atau bahkan adanya anggota keluarga yang menggunakan Napza, dapat meningkatkan risiko seseorang untuk ikut terlibat.

 Kurangnya Informasi dan Pendidikan: Pemahaman yang minim tentang bahaya Napza dan konsekuensi jangka panjangnya dapat membuat seseorang lebih rentan untuk mencoba.

 Masalah Kesehatan Mental yang Tidak Tertangani: Individu dengan gangguan kesehatan mental yang tidak diobati mungkin menggunakan Napza sebagai upaya "pengobatan sendiri" yang keliru.

 Faktor Genetik dan Biologis: Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik dapat memengaruhi kerentanan seseorang terhadap adiksi. Beberapa orang mungkin memiliki predisposisi biologis yang membuat mereka lebih mudah mengalami ketergantungan.

 Ketersediaan Napza: Semakin mudah Napza diakses, semakin besar pula risiko seseorang untuk mencoba dan menggunakannya.

 Promosi dan Iklan (terutama untuk zat adiktif legal seperti alkohol dan rokok): Meskipun ada batasan, promosi dan iklan dapat menormalisasi penggunaan zat adiktif dan mempengaruhi persepsi risiko.

Mengapa "Coba-coba" Sangat Berbahaya?

Napza memiliki efek psikoaktif yang kuat, memengaruhi sistem saraf pusat dan mengubah suasana hati, pikiran, perasaan, dan perilaku. Sekali zat ini masuk ke dalam tubuh, ia akan memicu pelepasan dopamin secara berlebihan di otak. Dopamin adalah neurotransmitter yang berperan dalam sensasi kesenangan dan penghargaan. Ledakan dopamin inilah yang menciptakan rasa euforia sesaat, yang kemudian otak akan "ingat" dan ingin mengulanginya lagi.

Inilah jebakan pertama. Otak dengan cepat beradaptasi dengan kehadiran napza. Efek yang sama tidak lagi bisa dirasakan dengan dosis yang sama. Akibatnya, pengguna cenderung meningkatkan dosis dan frekuensi penggunaan untuk mendapatkan sensasi yang serupa. Proses inilah yang menjadi awal mula ketergantungan atau kecanduan.

Lebih dari Sekadar Sensasi Sesaat

Kecanduan napza bukan hanya masalah fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Ketergantungan akan membuat seseorang:

      Kehilangan Kontrol: Keinginan untuk menggunakan napza menjadi tak tertahankan, mengalahkan segala logika dan pertimbangan.

        Mengalami Gejala Putus Zat (Sakaw): Ketika efek napza hilang, muncul gejala tidak menyenangkan seperti mual, muntah, nyeri otot, gelisah, hingga kejang. Hal ini memaksa pengguna untuk terus menggunakan napza demi menghindari sakaw.

        Mengabaikan Tanggung Jawab: Sekolah, pekerjaan, keluarga, dan pertemanan menjadi tidak penting lagi. Fokus hidup hanya tertuju pada bagaimana mendapatkan dan menggunakan napza.

       Melakukan Tindakan Kriminal: Demi mendapatkan uang untuk membeli napza, seseorang bisa nekat melakukan tindakan melanggar hukum seperti mencuri atau menipu.

    Mengalami Masalah Kesehatan Serius: Penggunaan napza dalam jangka panjang dapat merusak organ-organ vital seperti otak, hati, jantung, dan paru-paru. Risiko tertular penyakit menular seperti HIV dan hepatitis juga meningkat akibat penggunaan jarum suntik bergantian.

    Mengalami Gangguan Mental: Napza dapat memicu atau memperparah gangguan mental seperti depresi, kecemasan, psikosis, dan bahkan bunuh diri.

Waspadai Lingkungan dan Pergaulan

Tekanan teman sebaya, rasa ingin diterima dalam kelompok, dan kurangnya informasi yang benar seringkali menjadi pemicu utama coba-coba napza. Lingkungan yang permisif terhadap penggunaan narkoba juga menjadi faktor risiko yang besar.

Pencegahan Lebih Baik daripada Mengobati

Mencegah penyalahgunaan napza adalah tanggung jawab kita bersama. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

     Edukasi Dini: Berikan informasi yang benar dan jelas tentang bahaya napza kepada anakanak dan remaja sejak dini.

     Komunikasi Terbuka: Ciptakan lingkungan keluarga dan pertemanan yang terbuka dan suportif, di mana seseorang merasa nyaman untuk berbicara tentang masalah dan tekanan yang dihadapi.

     Pendidikan Karakter: Tanamkan nilai-nilai positif, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, dan kemampuan menolak pengaruh buruk.

     Aktivitas Positif: Arahkan energi dan minat pada kegiatan positif seperti olahraga, seni, atau kegiatan sosial.

  Peran Aktif Masyarakat: Laporkan jika mengetahui adanya aktivitas penyalahgunaan napza di lingkungan sekitar.

Jangan Ragu Meminta Bantuan

Jika kamu atau orang yang kamu kenal terjerat dalam penyalahgunaan napza, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Ada banyak lembaga dan tenaga ahli yang siap membantu proses pemulihan. Mengakui masalah adalah langkah pertama menuju perubahan yang lebih baik.

"Coba-coba" memang terdengar tidak berbahaya, tetapi dampaknya bisa sangat fatal. Jauhi napza sebelum ia menjeratmu dalam kecanduan yang merenggut masa depan. Waspadalah!



Selasa, 20 Mei 2025

Cinta, Komitmen, dan Realita: Mengapa Menunda Pernikahan Bisa Lebih Baik?

 

Cinta, Komitmen, dan Realita: Mengapa Menunda Pernikahan Bisa Lebih Baik?

Penulis: Salsa dan Radiya, Editor: Emelia


Menikah adalah keputusan besar yang tak hanya soal cinta, tapi juga kesiapan fisik, mental, dan ekonomi. Di tengah tuntutan pendidikan dan karier, menunda pernikahan bukan berarti takut berkomitmen, melainkan bentuk komitmen yang lebih matang dan realistis

Mari Kita bahas beberapa poin penting terkait “Cinta, Komitmen, dan Realita: Mengapa Menunda Pernikahan Bisa Lebih Baik.

1. Menunda Pernikahan Demi Pendidikan adalah Mempersiapkan Masa Depan yang Lebih Baik

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang sangat penting untuk membangun kehidupan keluarga yang stabil. Melanjutkan pendidikan hingga tuntas memberi bekal ilmu dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup dan rumah tangga. Menunda menikah demi menyelesaikan pendidikan bukan berarti menghindari tanggung jawab, tapi menunjukkan keseriusan mempersiapkan diri agar kelak bisa menjadi pasangan dan orang tua yang berkualitas.

Selain itu, usia ideal menikah menurut BKKBN adalah minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki, karena pada usia tersebut seseorang dianggap sudah cukup matang secara fisik dan mental untuk menjalani pernikahan dan membangun keluarga yang harmonis. Menunda pernikahan hingga mencapai usia ideal ini membantu mengurangi risiko kesehatan reproduksi dan meningkatkan kesiapan mental.

2. Fokus pada Karier Untuk Membangun Kemandirian dan Stabilitas Finansial

Karier yang mapan adalah salah satu fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang sehat dan bahagia. Menunda pernikahan memberi kesempatan untuk fokus mengembangkan karier, mencapai stabilitas finansial, dan membangun kemandirian. Pasangan yang sudah mandiri secara ekonomi biasanya lebih siap menghadapi tanggung jawab rumah tangga dan mampu memberikan dukungan yang lebih baik satu sama lain.

Kesiapan ekonomi ini sejalan dengan rekomendasi BKKBN yang menyarankan laki-laki menikah pada usia 25 tahun, saat diharapkan sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan yang stabil untuk menafkahi keluarga. Dengan demikian, menunda pernikahan demi karier bukan berarti menghindari komitmen, melainkan mempersiapkan fondasi yang kuat untuk membangun keluarga.

3. Komitmen Lebih dari Sekadar Usia

Komitmen sejati dalam hubungan tidak diukur dari seberapa cepat seseorang menikah, melainkan dari keseriusan dan kesiapan menjalani kehidupan bersama. Menunda pernikahan demi pendidikan dan karier justru menunjukkan komitmen yang lebih dalam, karena pasangan berusaha memastikan kesiapan fisik, mental, dan finansial sebelum memulai babak baru dalam hidup.

Usia hanyalah angka; kesiapan mental dan emosional jauh lebih penting dalam menentukan keberhasilan pernikahan. Setiap individu memiliki tingkat kedewasaan yang berbedabeda, sehingga keputusan menunda menikah bisa menjadi bentuk penghormatan terhadap proses tumbuh kembang pribadi yang sehat.

Kesimpulan

Menunda pernikahan demi pendidikan dan karier adalah langkah bijak yang tidak menunjukkan ketakutan terhadap komitmen, melainkan komitmen yang lebih matang dan penuh perhitungan. Dengan memprioritaskan kesiapan fisik, mental, dan ekonomi, seseorang mempersiapkan diri untuk membangun keluarga yang lebih harmonis dan berkelanjutan. Jadi, menunda menikah bukanlah kelemahan, melainkan investasi penting untuk masa depan yang lebih baik bersama pasangan.

.

.

.

Referensi

Antara News – “Kapan waktu yang tepat untuk menikah?”

Bayali, C. (2013). Menunda pernikahan bagi wanita karir menurut hukum islam. Hukum Islam, 13(1), 84-96.

Raihana, S. N. (2024). Analisis sosiokultural penundaan pernikahan pada wanita karir: Studi kasus Kota Depok. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 2(1), 17-29.

Kamis, 24 April 2025

Saat Hidup Terasa Berat, Daily Dose of Sunshine Mengajarkan Kita Bertahan

Oleh: Emelia, Divisi Eksternal Organisasi

Saat Hidup Terasa Berat, Daily Dose of Sunshine Mengajarkan Kita Bertahan



"Mungkin, yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian untuk dibenci. Namun, karena kita ingin dicintai dan ingin diakui, kita mengiris jiwa kita dengan pisau agar indah di mata orang lain. Karena itulah, kita selalu merasa sakit dan tak bahagia." Daily Dose of Sunshine

Hai GenRengers!

Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, kesehatan mental sering kali menjadi aspek yang terabaikan. Banyak orang masih menganggap bahwa kesehatan fisik lebih penting, padahal keduanya saling berkaitan. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu juga merasa sering mengabaikan kesehatan mental?

Drama Korea Daily Dose of Sunshine seakan hadir sebagai pengingat bahwa kesehatan mental adalah bagian yang tak terpisahkan dari kesejahteraan kita. Melalui kisah yang menyentuh dan realistis, drama ini mengajak kita untuk lebih peduli dengan kondisi mental diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

Daily Dose of Sunshine: Sebuah Cerminan Realitas

Drama ini mengisahkan tentang Jung Da-eun, seorang perawat yang bekerja di bangsal psikiatri. Melalui sudut pandangnya, kita diajak untuk melihat kehidupan pasien dengan gangguan mental serta perjuangan mereka dalam mendapatkan pemulihan. Drama ini tidak hanya menggambarkan kisah emosional, tetapi juga memberikan wawasan mengenai bagaimana kesehatan mental seharusnya dirawat dan diperhatikan.

Dalam drama ini, berbagai kasus kesehatan mental ditampilkan dengan cara yang penuh empati dan realisme. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Gangguan Kecemasan – Salah satu pasien yang dirawat Jung Da-eun mengalami gangguan kecemasan berat yang membuatnya sulit menjalani kehidupan sehari-hari. Drama ini menunjukkan bagaimana pendekatan terapi dan dukungan sosial dapat membantu pasien ini perlahan membaik.

  2. Depresi Klinis – Ada juga karakter yang mengalami depresi klinis yang membuatnya kehilangan minat dalam hidup. Drama ini menggambarkan bagaimana perasaan kosong dan putus asa bisa mempengaruhi kehidupan seseorang dan pentingnya perawatan yang tepat.

  3. Gangguan Bipolar – Salah satu pasien di bangsal psikiatri mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem antara mania dan depresi. Drama ini menampilkan bagaimana kondisi ini tidak hanya mempengaruhi individu, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitarnya.

  4. Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD) – Dalam drama ini, diceritakan seorang pasien yang mengalami PTSD akibat pengalaman traumatis di masa lalu. Perjuangannya untuk menghadapi ketakutan dan bayangan masa lalu menjadi salah satu aspek yang menyentuh dalam cerita ini.

Dengan menampilkan berbagai kasus ini, Daily Dose of Sunshine berhasil memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang kompleksitas kesehatan mental serta perlunya dukungan bagi para penderita.

Mengapa Kesehatan Mental Penting?

Menurut penelitian dari World Health Organization (WHO), kesehatan mental yang baik berkontribusi pada kesejahteraan hidup secara keseluruhan dan dapat meningkatkan produktivitas seseorang. Berikut beberapa alasan mengapa kesehatan mental sangat penting:

  1. Mempengaruhi Kesejahteraan Hidup Kesehatan mental yang baik memungkinkan kita untuk menjalani hidup dengan lebih bahagia dan produktif. Saat kita merasa stabil secara emosional, kita lebih mampu menghadapi tantangan dan tekanan hidup.

  2. Menjaga Hubungan Sosial Orang dengan kesehatan mental yang baik cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih sehat. Mereka lebih mudah berkomunikasi, membangun hubungan, dan memahami perasaan orang lain.

  3. Mencegah Penyakit Fisik Menurut Harvard Health Publishing, stres yang berlebihan dan gangguan mental dapat berkontribusi terhadap berbagai penyakit fisik, seperti tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, dan penyakit jantung. Dengan menjaga kesehatan mental, kita juga menjaga kesehatan fisik kita.

Pelajaran dari Daily Dose of Sunshine

  1. Jangan Takut untuk Mencari Bantuan Drama ini mengajarkan bahwa mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan. Justru, itu adalah langkah berani dalam merawat diri sendiri. Menurut American Psychological Association (APA), terapi psikologis terbukti efektif dalam membantu individu mengelola stres dan gangguan mental.

  2. Empati adalah Kunci Melalui karakter Jung Da-eun, kita belajar bahwa empati dapat membantu seseorang merasa lebih didukung dan diterima. Bahkan, dukungan kecil dari orang terdekat bisa sangat berarti bagi mereka yang berjuang dengan kesehatan mentalnya. Kira-kira, bagaimana cara sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mendukung teman atau keluarga yang sedang mengalami masa sulit?

  3. Menormalisasi Pembicaraan tentang Kesehatan Mental Drama ini berperan dalam mengedukasi masyarakat agar tidak lagi menganggap gangguan mental sebagai sesuatu yang tabu. Dengan semakin banyaknya diskusi terbuka mengenai kesehatan mental, stigma dapat berkurang, dan lebih banyak orang bisa mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Yuk, mulai dari diri sendiri dengan lebih terbuka membicarakan kesehatan mental!

  4. Berdamai dengan Keadaan Tidak semua hal bisa kita kendalikan, dan menerima kenyataan adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan mental. Berdamai dengan keadaan membantu kita mengurangi stres dan fokus pada hal-hal yang masih bisa kita upayakan.

  5. Meminta Tolong Tidak ada salahnya meminta bantuan ketika merasa kewalahan. Dukungan dari teman, keluarga, atau profesional sangat penting untuk menjaga keseimbangan emosional.

  6. Luangkan Waktu untuk Bersedih Merasa sedih adalah hal yang wajar, dan kita tidak harus selalu terlihat kuat. Memberi diri sendiri izin untuk bersedih dapat membantu proses pemulihan emosi.

  7. Mengapresiasi Pencapaian Kecil Terkadang kita terlalu fokus pada tujuan besar dan melupakan langkah-langkah kecil yang telah kita capai. Menghargai pencapaian sekecil apa pun dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi.

  8. Berani Berkata Tidak Terlalu banyak tuntutan dari lingkungan dapat menyebabkan stres berlebih. Berani berkata tidak pada hal-hal yang tidak sesuai dengan kapasitas dan kenyamanan kita adalah bagian dari menjaga kesehatan mental.

  9. Ketahui Kapasitas Diri Mengenali batasan diri membantu kita menghindari kelelahan emosional dan fisik. Dengan mengetahui kapasitas kita, kita dapat mengelola energi dengan lebih baik dan tetap menjaga keseimbangan hidup.

"Karna kita semua berada di ambang batas antara normal dan tidak normal" - Daily Dose of Sunshine
.
.
.
.
.
.
.
.


Referensi:
  • American Psychological Association (APA). (2022). Mental Health Benefits of Therapy. Retrieved from https://www.apa.org
  • Harvard Health Publishing. (2021). The impact of stress on your body. Retrieved from https://www.health.harvard.edu
  • World Health Organization (WHO). (2022). Mental health: Strengthening our response. Retrieved from https://www.who.int