Haruskah Selalu Produktif atau Penting Juga Untuk Beristirahat?
Sadar ga sih, akhir-akhir ini hidup terasa seperti lomba estafet yang nggak kelar-kelar. Bangun pagi harus langsung produktif, nyantai di cafe sambil buka laptop, scrolling instagram isinya orang-orang sukses yang ikut organisasi sana-sini, bangun bisnis plus ikut kelas pilates.
“Kalau kamu ga ikut produktif, sudah pasti ketinggalan” katanya sih begitu. Kebiasaan ini yang sering disebut hustle culture. Kerja keras bagai kuda, tapi pakai koyo tiap hari.
Apa itu hustle culture?
Hustle culture adalah pola pikir atau norma sosial yang menempatkan kerja keras secara ekstrem sebagai tolak ukur utama keberhasilan hidup. Dalam budaya ini, seseorang dianggap "bernilai" jika mereka terus-menerus sibuk, bekerja lembur, mengorbankan waktu istirahat, relasi sosial, bahkan kesehatan demi produktivitas.
Ciri-ciri hustle
culture:
- Selalu memikirkan kerja dan tidak punya waktu santai
- Merasa bersalah ketika istirahat
- Memiliki target yang tidak realistis
- Sering mengalami burnout atau kelelahan bekerja
- Tidak pernah puas dengan hasil kerja
Standar ini mulai diglorifikasikan di media cetak maupun media sosial. Kita dapat menemuinya dengan mudah mulai dari buku-buku pengembangan diri, quotes motivasi sampai konten “productive day in my life yang digaungkan oleh influencer. Secara tidak sadar kita mengkonsumsi hal tersebut dan membentuk hustle culture di masyarakat.
Di dunia kampus, orang yang produktif itu kelihatan
keren, makin sibuk makin dianggap “mahasiswa
berprestasi”. padahal, kamu nggak tahu kenapa
harus ngejar itu semua cuma karena takut dianggap nggak berhasil, takut
tersaingi atau cuma FOMO. Semua itu ‘sah’ aja dilakukan, asal tau batasan. Nggak ada salahnya untuk ‘rem’ diri kamu biar ga burnout!
- Ngerasa bersalah
tiap kali istirahat
- Rapat dari pagi
sampe malam, tugas jadi keteteran
- Badan capek, tapi otak nggak berhenti mikir.
Work Life Balance
Work Life Balance sebuah istilah yang menggambarkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Singkatnya ngatur energi. bukan berarti bisa leha-lehaan terus, tapi kamu tahu kapan harus fokus dan kapan harus istirahat.
Gimana caranya kita dapat menyeimbangkan kegiatan
sehari-hari?
- Tetapkan batasan
waktu yang jelas, jangan terlalu porsir diri.
- Mendelegasikan
tugas dan berani untuk berkata tidak
- Lakukan aktivitas yang positif di luar pekerjaan , luangkan waktu untuk hobi.
Self improvment itu nggak harus selalu gaspol,
terkadang kamu juga butuh istirahat.
Intinya hidup itu nggak harus jadi superhuman di usia 20-an Produktivitas itu bagus, tapi istirahat juga bentuk kemajuan. “Kamu nggak harus balapan sama siapa pun. Kadang, pelan-pelan juga tetap bisa sampai”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar