Minggu, 24 Agustus 2025

Bucin Cewek vs Cowok: Bedanya di Hormon, Bukan Cuma Perasaan!

Penulis: Emelia, Divisi Eksternal Organisasi

Bucin Cewek vs Cowok: Bedanya di Hormon, Bukan Cuma Perasaan!

Falling in love is not just about the heart, it’s also about chemistry in the brain.” – Helen Fisher

“Cinta itu buta.” Kalimat ini sering jadi bahan candaan, bahkan diledekin ke teman yang lagi klepek-klepek sama pasangan. Tapi pernahkah kamu berpikir kalau ternyata bucin memang punya dasar ilmiahnya?

Bukan sekadar perasaan, ternyata fenomena bucin erat kaitannya dengan kerja hormon di dalam tubuh kita. Dan menariknya lagi, cewek dan cowok punya pola bucin yang berbeda bukan karena sifat, tapi karena hormon dominan yang berperan saat jatuh cinta.

Saat Cewek Lagi Bucin: Dunia Serasa Milik Berdua

Bagi cewek, jatuh cinta sering terasa seperti dunia berubah jadi lebih indah. Senyum-senyum sendiri, hati berdebar tiap lihat notifikasi, dan ada keinginan kuat untuk selalu dekat dengan pasangan.

Fenomena ini terjadi karena dua hormon utama yang mendominasi tubuh cewek ketika bucin:

  •  Oksitosin → dikenal sebagai love hormone atau bonding hormone. Hormon ini keluar saat cewek berinteraksi hangat, misalnya pelukan, ngobrol dalam, atau quality time. Efeknya membuat cewek merasa aman, percaya, dan semakin terikat secara emosional.
  •  Dopamin → hormon bahagia yang bikin rasa euforia. Perhatian kecil dari pasangan terasa seperti hadiah besar, seolah dunia berputar hanya untuk dirinya.

Kombinasi keduanya membuat cewek cenderung menilai pasangannya sebagai “manusia ter-perfect di semesta”. Walau cowoknya punya red flag, otak cewek sering memilih menutup mata alias denial. Itu karena ikatan emosional dari oksitosin sudah terlalu kuat dan membuat pandangan jadi bias.

Cewek bucin lebih mudah membentuk ikatan jangka panjang. Mereka cenderung setia dan susah lepas walau disakiti, karena otak sudah menganggap pasangan sebagai “rumah emosional”.

Saat Cowok Lagi Bucin: Driven, Tapi dengan Tujuan Berbeda

Nah, kalau cowok yang lagi jatuh cinta, ceritanya sedikit berbeda. Memang mereka juga bisa semangat, perhatian, bahkan rela melakukan banyak hal untuk pasangan. Tapi hormon yang paling berperan justru bukan oksitosin, melainkan:

  • Testosteron → hormon maskulinitas yang terkait dengan drive, hasrat, ambisi, dan self-reward. Testosteron mendorong cowok lebih aktif menunjukkan rasa suka, misalnya lewat aksi nyata, usaha mendekati, hingga sikap protektif.
  • Dopamin → sama seperti cewek, hormon ini bikin cowok merasa nagih, seneng banget, dan pengen lagi-lagi. Setiap “momen berhasil” dengan pasangan memberi sensasi kepuasan.

Tapi ada hal menarik: testosteron bisa menekan efek oksitosin.

Artinya, walaupun cowok merasa puas secara fisik (misalnya setelah intens quality time atau physical touch), tidak otomatis mereka langsung merasa keterikatan emosional yang sama kuatnya dengan cewek.

Fenomena ini menjelaskan kenapa sebagian cewek merasa bingung atau kecewa:

“Kok habis deket banget, dia malah biasa aja? Bukannya makin lengket?”

Cowok bucin cenderung driven oleh kepuasan dan dorongan hasrat. Mereka bisa merasa satisfied, tapi tidak selalu disertai ikatan emosional yang dalam.

 Perbandingan Bucin Cewek dan Cowok

Kalau disederhanakan, begini perbedaan utamanya:

 Cewek → bucin karena bonding emosional.

 Cowok → bucin karena drive + reward.

Kalau diibaratkan:

 Cewek jatuh cinta ibarat menulis kisah novel panjang yang penuh emosi dan keterikatan.

 Cowok jatuh cinta ibarat menonton film penuh aksi: seru, intens, tapi tergantung apakah ingin dilanjutkan jadi serial panjang atau tidak.

Keduanya sama-sama “bucin”, tapi dengan warna hormon dan tujuan yang berbeda.

Jadi, Cinta Itu Buta Ada Benarnya

Dari sisi sains, istilah “cinta itu buta” bukan sekadar kata-kata.

  •  Pada cewek, oksitosin membuat mereka fokus pada hal-hal positif pasangan, bahkan kadang menutup mata pada red flag.
  •  Pada cowok, testosteron + dopamin bikin mereka lebih fokus pada reward dan kepuasan, bukan otomatis keterikatan emosional.

Kalau dua belah pihak tidak paham perbedaan biologis ini, sering muncul salah paham. Cewek menganggap cowok “nggak serius”, sementara cowok bingung kenapa cewek “terlalu baper”.

Padahal, bucin hanyalah fase biologis. Hubungan sehat tidak cukup hanya mengandalkan hormon. Perlu komunikasi, komitmen, dan kesadaran bersama untuk menjaga hubungan tetap seimbang.

Pada akhirnya, cinta memang bisa membuat buta. Tapi dengan saling memahami, pasangan bisa belajar membuka mata—dan justru jadi makin kuat bersama. 💕

“At the end of the day, love is not about losing yourself in hormones, but about choosing each other every single day.”

 Referensi:

 Carter, C. S. (1998). Neuroendocrine perspectives on social attachment and love. Psychoneuroendocrinology, 23(8), 779-818.

 Young, L. J., & Wang, Z. (2004). The neurobiology of pair bonding. Nature Neuroscience, 7(10), 1048–1054.

 Fisher, H., Aron, A., & Brown, L. L. (2006). Romantic love: A mammalian brain system for mate choice. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 361(1476), 2173–2186.

 Van Anders, S. M., Goldey, K. L., & Kuo, P. X. (2011). The steroid/peptide theory of social bonds: Integrating testosterone and peptide responses for classifying social behavioral contexts. Psychoneuroendocrinology, 36(9), 1265-1275.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar