Penulis: Emelia, Divisi Eksternal Organisasi
Bucin Cewek vs Cowok: Bedanya di Hormon, Bukan Cuma Perasaan!
“Falling in love is not just about the
heart, it’s also about chemistry in the brain.” – Helen Fisher
“Cinta itu buta.” Kalimat ini sering jadi bahan candaan, bahkan diledekin ke teman yang lagi klepek-klepek sama pasangan. Tapi pernahkah kamu berpikir kalau ternyata bucin memang punya dasar ilmiahnya?
Bukan sekadar perasaan, ternyata fenomena
bucin erat kaitannya dengan kerja hormon di dalam tubuh kita. Dan menariknya
lagi, cewek dan cowok punya pola bucin yang berbeda bukan karena sifat, tapi
karena hormon dominan yang berperan saat jatuh cinta.
Saat Cewek Lagi Bucin: Dunia Serasa Milik Berdua
Bagi cewek, jatuh cinta sering terasa seperti
dunia berubah jadi lebih indah. Senyum-senyum sendiri, hati berdebar tiap lihat
notifikasi, dan ada keinginan kuat untuk selalu dekat dengan pasangan.
Fenomena ini terjadi karena dua hormon utama
yang mendominasi tubuh cewek ketika bucin:
- Oksitosin → dikenal sebagai love hormone atau bonding hormone. Hormon ini keluar saat cewek berinteraksi hangat, misalnya pelukan, ngobrol dalam, atau quality time. Efeknya membuat cewek merasa aman, percaya, dan semakin terikat secara emosional.
- Dopamin → hormon bahagia yang bikin rasa euforia. Perhatian kecil dari pasangan terasa seperti hadiah besar, seolah dunia berputar hanya untuk dirinya.
Kombinasi keduanya membuat cewek cenderung
menilai pasangannya sebagai “manusia ter-perfect di semesta”. Walau cowoknya
punya red flag, otak cewek sering memilih menutup mata alias denial. Itu karena
ikatan emosional dari oksitosin sudah terlalu kuat dan membuat pandangan jadi
bias.
Cewek bucin lebih mudah membentuk ikatan jangka panjang. Mereka
cenderung setia dan susah lepas walau disakiti, karena otak sudah menganggap
pasangan sebagai “rumah emosional”.
Saat Cowok Lagi Bucin: Driven, Tapi dengan Tujuan Berbeda
Nah, kalau cowok yang lagi jatuh cinta,
ceritanya sedikit berbeda. Memang mereka juga bisa semangat, perhatian, bahkan
rela melakukan banyak hal untuk pasangan. Tapi hormon yang paling berperan
justru bukan oksitosin, melainkan:
- Testosteron → hormon maskulinitas yang terkait dengan drive, hasrat, ambisi, dan self-reward. Testosteron mendorong cowok lebih aktif menunjukkan rasa suka, misalnya lewat aksi nyata, usaha mendekati, hingga sikap protektif.
- Dopamin → sama seperti cewek, hormon ini bikin cowok merasa nagih, seneng banget, dan pengen lagi-lagi. Setiap “momen berhasil” dengan pasangan memberi sensasi kepuasan.
Tapi ada hal menarik: testosteron bisa menekan
efek oksitosin.
Artinya, walaupun cowok merasa puas secara
fisik (misalnya setelah intens quality time atau physical touch), tidak
otomatis mereka langsung merasa keterikatan emosional yang sama kuatnya dengan
cewek.
Fenomena ini menjelaskan kenapa sebagian cewek merasa bingung atau kecewa:
“Kok habis deket banget, dia malah biasa
aja? Bukannya makin lengket?”
Cowok bucin cenderung driven oleh kepuasan dan dorongan hasrat. Mereka bisa merasa satisfied, tapi tidak selalu disertai ikatan emosional yang dalam.
Perbandingan Bucin Cewek dan Cowok
Kalau disederhanakan, begini perbedaan
utamanya:
Cewek →
bucin karena bonding emosional.
Cowok →
bucin karena drive + reward.
Kalau diibaratkan:
Cewek
jatuh cinta ibarat menulis kisah novel panjang yang penuh emosi dan
keterikatan.
Cowok jatuh cinta ibarat menonton film penuh aksi: seru, intens, tapi tergantung apakah ingin dilanjutkan jadi serial panjang atau tidak.
Keduanya sama-sama “bucin”, tapi dengan warna
hormon dan tujuan yang berbeda.
Jadi, Cinta Itu Buta Ada Benarnya
Dari sisi sains, istilah “cinta itu buta”
bukan sekadar kata-kata.
- Pada cewek, oksitosin membuat mereka fokus pada hal-hal positif pasangan, bahkan kadang menutup mata pada red flag.
- Pada cowok, testosteron + dopamin bikin mereka lebih fokus pada reward dan kepuasan, bukan otomatis keterikatan emosional.
Kalau dua belah pihak tidak paham perbedaan
biologis ini, sering muncul salah paham. Cewek menganggap cowok “nggak serius”,
sementara cowok bingung kenapa cewek “terlalu baper”.
Padahal, bucin hanyalah fase biologis.
Hubungan sehat tidak cukup hanya mengandalkan hormon. Perlu komunikasi,
komitmen, dan kesadaran bersama untuk menjaga hubungan tetap seimbang.
Pada akhirnya, cinta memang bisa membuat buta.
Tapi dengan saling memahami, pasangan bisa belajar membuka mata—dan justru jadi
makin kuat bersama. 💕
“At the end of the day, love is not about
losing yourself in hormones, but about choosing each other every single day.”
Referensi:
Carter,
C. S. (1998). Neuroendocrine perspectives on social attachment and love.
Psychoneuroendocrinology, 23(8), 779-818.
Young,
L. J., & Wang, Z. (2004). The neurobiology of pair bonding. Nature
Neuroscience, 7(10), 1048–1054.
Fisher,
H., Aron, A., & Brown, L. L. (2006). Romantic love: A mammalian brain
system for mate choice. Philosophical Transactions of the Royal Society B:
Biological Sciences, 361(1476), 2173–2186.
Van
Anders, S. M., Goldey, K. L., & Kuo, P. X. (2011). The steroid/peptide
theory of social bonds: Integrating testosterone and peptide responses for
classifying social behavioral contexts. Psychoneuroendocrinology, 36(9),
1265-1275.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar