Kamis, 20 November 2025

Cinta, Komitmen, dan Realita: Mengapa Menunda Pernikahan Bisa Lebih Baik?

Cinta, Komitmen, dan Realita: Mengapa Menunda Pernikahan Bisa Lebih Baik? 

Penulis: Salsa dan Radiya 


Menikah adalah keputusan besar yang tak hanya soal cinta, tapi juga kesiapan fisik, mental, dan ekonomi. Di tengah tuntutan pendidikan dan karier, menunda pernikahan bukan berarti takut berkomitmen, melainkan bentuk komitmen yang lebih matang dan realistis. Mari Kita bahas beberapa poin penting terkait “Cinta, Komitmen, dan Realita: Mengapa Menunda Pernikahan Bisa Lebih Baik.

1. Menunda Pernikahan Demi Pendidikan adalah Mempersiapkan Masa Depan yang Lebih Baik 

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang sangat penting untuk membangun kehidupan keluarga yang stabil. Melanjutkan pendidikan hingga tuntas memberi bekal ilmu dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup dan rumah tangga. Menunda menikah demi menyelesaikan pendidikan bukan berarti menghindari tanggung jawab, tapi menunjukkan keseriusan mempersiapkan diri agar kelak bisa menjadi pasangan dan orang tua yang berkualitas.  

Selain itu, usia ideal menikah menurut BKKBN adalah minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki, karena pada usia tersebut seseorang dianggap sudah cukup matang secara fisik dan mental untuk menjalani pernikahan dan membangun keluarga yang harmonis. Menunda pernikahan hingga mencapai usia ideal ini membantu mengurangi risiko kesehatan reproduksi dan meningkatkan kesiapan mental.

2. Fokus pada Karier Untuk Membangun Kemandirian dan Stabilitas Finansial

Karier yang mapan adalah salah satu fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang sehat dan bahagia. Menunda pernikahan memberi kesempatan untuk fokus mengembangkan karier, mencapai stabilitas finansial, dan membangun kemandirian. Pasangan yang sudah mandiri secara ekonomi biasanya lebih siap menghadapi tanggung jawab rumah tangga dan mampu memberikan dukungan yang lebih baik satu sama lain.

Kesiapan ekonomi ini sejalan dengan rekomendasi BKKBN yang menyarankan laki-laki menikah pada usia 25 tahun, saat diharapkan sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan yang stabil untuk menafkahi keluarga. Dengan demikian, menunda pernikahan demi karier bukan berarti menghindari komitmen, melainkan mempersiapkan fondasi yang kuat untuk membangun keluarga.


3. Komitmen Lebih dari Sekadar Usia
Komitmen sejati dalam hubungan tidak diukur dari seberapa cepat seseorang menikah, melainkan dari keseriusan dan kesiapan menjalani kehidupan bersama. Menunda pernikahan demi pendidikan dan karier justru menunjukkan komitmen yang lebih dalam, karena pasangan berusaha memastikan kesiapan fisik, mental, dan finansial sebelum memulai babak baru dalam hidup.
Usia hanyalah angka; kesiapan mental dan emosional jauh lebih penting dalam menentukan keberhasilan pernikahan. Setiap individu memiliki tingkat kedewasaan yang berbeda- beda, sehingga keputusan menunda menikah bisa menjadi bentuk penghormatan terhadap proses tumbuh kembang pribadi yang sehat.

Kesimpulan
Menunda pernikahan demi pendidikan dan karier adalah langkah bijak yang tidak menunjukkan ketakutan terhadap komitmen, melainkan komitmen yang lebih matang dan penuh perhitungan. Dengan memprioritaskan kesiapan fisik, mental, dan ekonomi, seseorang mempersiapkan diri untuk membangun keluarga yang lebih harmonis dan berkelanjutan. Jadi, menunda menikah bukanlah kelemahan, melainkan investasi penting untuk masa depan yang lebih baik bersama pasangan.

Referensi
Antara News “Kapan waktu yang tepat untuk menikah?”
Bayali, C. (2013). Menunda pernikahan bagi wanita karir menurut hukum islam. Hukum Islam, 13(1), 84-96.

Raihana, S. N. (2024). Analisis sosiokultural penundaan pernikahan pada wanita karir: Studi kasus Kota Depok. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 2(1), 17-29.

Pentingnya Kesadaran Akan Kesehatan Seksual dan Reproduksi: Bukan Lagi Hal Tabu!

Pentingnya Kesadaran Akan Kesehatan Seksual dan Reproduksi: Bukan Lagi Hal Tabu!

Penulis: Lia dan Ersa

Hai, GenRangers!

Mari kita bicara tentang sesuatu yang fundamental, tapi seringkali masih diselimuti rasa canggung dan dianggap tabu, kesehatan seksual dan reproduksi (KSR). Padahal, pemahaman yang baik tentang KSR adalah kunci untuk menjalani hidup yang lebih sehat, aman, dan berkualitas.

Mengapa KSR Sering Dianggap Tabu?

Di banyak budaya, termasuk di Indonesia, pembahasan tentang seksualitas dan reproduksi seringkali dihindari. Topik ini cenderung dianggap privat, sensitif, atau bahkan tidak pantas untuk dibicarakan secara terbuka. Akibatnya, banyak dari kita yang kurang mendapatkan informasi yang akurat dan komprehensif, terutama dari sumber yang terpercaya. Kebanyakan informasi didapatkan dari teman sebaya, internet tanpa filter, atau bahkan mitos-mitos yang beredar.

Dampak Buruk dari Kurangnya Edukasi KSR

Ketika edukasi KSR kurang, dampaknya bisa sangat serius, lho:

  1. Peningkatan Angka Penyakit Menular Seksual (PMS)

Kurangnya pemahaman tentang cara penularan dan pencegahan PMS dapat meningkatkan risiko infeksi.

  1. Kehamilan Tidak Direncanakan

Minimnya informasi tentang kontrasepsi dan perencanaan keluarga dapat menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan, terutama pada usia muda.

  1. Risiko Kekerasan Seksual

Edukasi KSR juga mencakup pemahaman tentang hak-hak tubuh, persetujuan, dan bagaimana mengenali serta mencegah kekerasan seksual.

  1. Masalah Kesehatan Reproduksi yang Tidak Terdeteksi

Banyak kondisi seperti gangguan menstruasi, masalah kesuburan, atau bahkan kanker serviks yang seringkali terlambat dideteksi karena kurangnya kesadaran untuk memeriksakan diri atau berkonsultasi.

  1. Stigma dan Diskriminasi Kurangnya pemahaman dapat memicu stigma terhadap individu dengan orientasi seksual atau identitas gender tertentu, atau bahkan terhadap mereka yang menghadapi masalah KSR.

Mengapa Kita Perlu Berani Bicara tentang KSR?

Membongkar tembok tabu ini bukan hanya tentang "berani" bicara, tapi tentang kebutuhan mendasar untuk:

1.     Meningkatkan Pengetahuan dan Kesadaran

Dengan informasi yang benar, kita bisa membuat keputusan yang lebih bijak mengenai tubuh dan masa depan kita.

2.     Mencegah Penyakit dan Masalah Kesehatan

Edukasi KSR membantu kita memahami cara menjaga kesehatan organ reproduksi, mencegah PMS, dan mengenali gejala penyakit.

3.     Memberdayakan Individu

Memiliki pengetahuan tentang KSR berarti memiliki kontrol atas tubuh dan pilihan reproduksi kita. Ini penting untuk perempuan maupun laki-laki.

4.     Menciptakan Lingkungan yang Lebih Aman

Diskusi terbuka tentang KSR dapat membantu membangun masyarakat yang lebih inklusif, toleran, dan melindungi individu dari kekerasan atau diskriminasi.

5.     Membangun Komunikasi Keluarga yang Sehat

Orang tua yang terbuka untuk mendiskusikan KSR dengan anak-anaknya dapat membimbing mereka dengan lebih baik dan membangun kepercayaan.

Mari Kita Mulai Perubahan!

Edukasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan sebuah investasi untuk masa depan yang lebih sehat dan bahagia. Pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, keluarga, dan masyarakat memiliki peran penting untuk menciptakan ruang yang aman dan terbuka bagi diskusi tentang KSR.

Mari kita berani memulai percakapan ini. Mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar. Semakin banyak kita bicara, semakin banyak kita memahami, dan semakin sehat pula kehidupan kita.

Apa pendapatmu tentang pentingnya KSR? Yuk, bagikan di kolom komentar!

Referensi:

https://indonesia.unfpa.org/en/publications/modul-pendidikan-kesehatan-reproduksi-remaja-luar-sekolah

https://ayosehat.kemkes.go.id/pentingnya-menjaga-kebersihan-alat-reproduksi